Selasa, 24 Februari 2015

Kill Me Heal Me & Hyde Jekyll Me; menu sama, rasa berbeda


                                                               Ini sih makanan kesukaan saya

Ibarat makanan, Kill Me Heal Me dan Hyde Jekyll Me mempunyai bahan dasar yang sama dalam menciptakan menu makanan, tapi dimasak dengan cara yang berbeda hingga menghasilkan rasa yang berbeda pula.
 


 Melihat kesuksesan yang diraih drama “It’s Okay, That’s Love”, awal tahun 2015 dunia pendramaan dihiasi dengan tema dunia psikologi. Kill Me Heal Me dan Hyde Jekyll Me adalah drama yang saat ini tengah bersaing dari segi ide cerita yang mengusung tentang Dissociative Identity Disorder atau kepribadian ganda.  


Drama ini pun tayang pada hari dan waktu yang sama. Meski saling tuding-menuding memplagiat, tetap saja dalam penggarapan cerita dikemas dengan rasa yang berbeda. Sejauh ini, Kill Me Heal Me berhasil mencuri hati para penonton dengan rating yang dari awal sangat bagus. Karena Jin Soo-Wan sebagai penulis skrip yang sukses dengan drama fenomenalnya “The Moon That Embraces The Sun, lihai memainkan alur cerita yang sangat rapi dan sangat kuat. 


Sedangkan Hyde Jekyll Me, sampai sejauh ini jalan ceritanya datar, meski rahasia demi rahasia mulai terungkap, tetap saja saya merasa hambar. Ini seperti makanan yang kurang garam atau seperti buah mangga yang dipaksakan untuk matang. Apa karena Hyde Jekyll Me hanya mengusung dua kepribadian, sedangkan Kill Me Heal Me tujuh kepribadian? Entahlah, tapi itulah yang saya rasakan sangat menikmati kedua drama ini.


Dari segi chemistry para pemain utamanya, jelas bahwa chemistry yang dibangun Ji Sung dan Hwang Jung Eum dalam Kill Me Heal Me lebih dapat daripada Hyun Bin dan Han Ji Min. Tapi bukan bearti akting Hyun Bin dan Han Ji Min tidak bagus ya. Saya yakin mereka telah melakukan yang terbaik. Masih membekas dalam benak saya bagaimana Hyun Bin memerankan tokoh Jo Won yang menjengkelkan namun lucu dan polos dalam Secret Garden. Begitu juga dengan Ha Ji Min dalam Rooftoop Princes. Jujur, karena kedua drama inilah saya menyukai Hyun Bin dan HaJi Min. 

Sedangkan Ji Sung dan Hwang Jung Eum, ini baru pertama kalinya saya menonton drama mereka. Meski sebelumnya, mereka telah dipertemukan dalam drama Secret Love. Chemistry mereka sangat natural, adegan seriusnya, romantisnya, dramatisnya, komedinya semua terangkum menjadi satu paket yang benar-benar manis. 
Dari segi latar musik, jujur sangat pertama kali saya mendengar soundtrack Kill Me Heal Me, saya langsung jatuh cinta. Sungguh, selaras dan serasi berpadu dengan konflik ceritanya. Akting para pemain dan musik membuat emosi penonton gregetan. Sedangkan Hyde Jekyll Me saya tidak merasakan emosi seperti itu.



Saya berharap bahwa Kill Me Heal Me dapat mempertahankan kelebihan yang telah berhasil diraih, sedangkan Hyde Jekyll Me saya berharap dapat menemukan suatu keistimewaan yang membuat saya terus menunggunya setiap minggu.


Kamis, 19 Februari 2015

Liburan ke Jawa; Pesona Pengandaran




Sebenarnyapergi ke Jawa sudah terjadwalkan sebelum hari raya Idul Fitri kemaren. Karena saat itu, saya masih sibuk mengerjakan tugas akhir kuliah, akhirnya ditunda sampai hari wisuda. Acara syukuran wisuda pun berubah menjadi perjalanan yang menyenangkan, menjelajah pulau Jawa sekaligus bersilahturahmi dengan keluarga besar di Jawa, terutama dengan keponakkan-keponakkan saya yang sejak lahir tak pernah jumpa. 

 Ada yang kurang sih, seharusnya perjalanan ini saya ditemani sahabat dekat saya, tapi sayang ia tak jadi iku. Akibatnya, saya kehilangan fotografer yang profesional. Heheheee... 

Ayubi (sebelah kiri di belakang), Fauzan (sebelah kiri di belakang), Habibah (sebelah kiri di depan), Dawiyah (sebelah kanan di depan)


Rute perjalanan: Pengandaran - Klaten - Kebumen - Cilacap - Magelang (Candi Brobudur) 

16 Nopember 2014
Bakda Isya, kami sekeluarga berangkat dari Ciamis menuju pantai Pengandaran yang terletak di sebelah tenggara Jawa Barat, agar dapat menikmati matahari terbit. Pantai ini pernah dinobatkan sebagai pantai terbaik di Provinsi Jawa Barat.



Sepanjang perjalanan hujan ringan mendampingi laju mobil yang kami kendarai. Kira-kira perjalanan menghabiskan waktu kurang lebih empat jam. Setiba di Pengandaran pukul 23.00 WIB, kami menyewa tiga kamar yang cukup nyaman buat istrirahat sampai besok siang. Harga 1 kamar Rp. 100.000.


Saya menempati kamar nomor dua.
Di pondok ini juga menyediakan berbagai menu makanan dan minuman dengan harga yang cukup terjangkau.

17 Nopember 2014
Dan jika sudah ada di pantai pasti asyiknya bermain air. 


Juga tak akan seru bila tak bermain pasir. Duh, Dawiyah kok mandi pasir atu...

Rasanya tak lengkap bila tak menuliskan sebuah huruf atau kata di tubuh pasir.



Kapan lagi coba bisa sarapan di bibir pantai. Pedagang asongan mulai hilir-mudik menjajahkan dagangannya, termasuk makanan ini.

Keistimewaan pantai ini, ada pesisir pasir putih. Kita harus menggunakan perahu kayu untuk menuju ke sana. Selain itu, kita juga dapat melihat pemandangan terumbu karang tanpa harus menyelam karena airnya sangat jernih.  

Di pasir putih ini ada kera lepas tapi jinak kok dan saya juga menemukan daun yang berbentuk hati.



Rasanya akan rugi, bila saya tidak meluangkan waktu sejenak untuk menulis di sini, menulis sembari mendengar perpaduan musik yang paling romantis, debur ombak dan hembusan angin. Sekaligus melayarkannya di tengah samudera luas. 

Sampai ketemu di kisah perjalanan selanjutnya ya
 di Candi Brobudur.