Selasa, 27 Oktober 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 9 Part 2


Joo Young mengusulkan Shin Hyuk menggantikan Sung Joon. Shin Hyuk bilang ia belum ada persiapan. Suasana di panggung hening sebentar. Saat Shin Hyuk bersedia, Kim Rara masuk ke podium.

Hahaha semuanya pada cemas dengan apa yang akan dikatakan Kim Rara apalagi saat dia menjelek-jelekkan hasil kerja anggota tim-nya.

Tebakkan Hye Jin benar, Sung Joon terjebak dalam mobilnya karena hujan. Hye Jin mendapatkan SMS dari Joo Young untuk kembali menyambut tamu karena acara pidato hampir selesai.

Saat Hye Jin masuk ke tempat acara, Madam Kim Rara masih memberikan pidatonya. Kim Rara mengucapakan terima kasih kepada seluruh tim The Most dunia yang telah menerbitkan majalah yang gemerlap. Semuanya terharu mendengarnnya. Tepat Rara menyudahi pidatonya, Sung Joon tiba namun ia tak masuk, Hye Jin melihatnya. 

Sung Joon meminta maaf pada Rara tanpa menjelaskan alasan kenapa ia bisa terlambat datang. Rara bertanya ada apa? Ini bukanlah kebiasaan Sung Joon. Sung Joon hanya minta maaf.  Rara tahu Sung tak mau cerita jadi ia bilang nanti saja mereka bicara lagi. 



Dan dari kejauhan Hye Jin melihat Sung Joon. Diam-diam Hye Jin berjalan mendekati Sung Joon dan duduk di sampingnya tanpa suara. Menemani Sung Joon yang sedang ketimpa masalah. Mereka berdua membisu. Tapi Seolah-olah Hye Jin berkata “Tidak apa-apa Sung Joo-ya. Semua akan baik-baik saja. (aku suka moment ini).
  
Di kantor Ah Reum mengungkit perkataan Sung Joon soal dia yang terlambat hadir di rapat. Shin Hyuk yang tahu Hye Jin tak nyaman mendengar itu, berusaha mengalihkan perhatian yang lain dengan mengajak bermain ular tangga. Tapi tak digubris. Malah Han Sul menambahkan ganti saja nama dari si Joon gila menjadi Joon muka tebal. Hye Jin tak tahan lagi ia mendorong kursi ke belakang, Shin membalik menghadap Hye Jin.

“Apa tidak terlalu kasar bicara begitu, padahal kalian tidak tahu apa-apa tentangnya?”

“Tak tahu apa-apa tentangnya? Maksudmu?”

“Iya, Hye Jin apa kau mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui?”




Hye Jin mau menjelaskannya, tapi Sung Joon memanggilnya dan menyuruh datang ke ruangannya. Hye Jin dan Sung Joon berada di luar kantor. (Aneh, tadi kan nyuruhnya ke ruangan).

“Kenapa kau sampai repot segitunya?” tanya Sung Joon.

“Karena tuduhan mereka salah! Aku marah karena mendengar omongan mereka. Ugh, kalau dipikir lagi malah makin membuatku marah. Apa Anda tidak dengar yang mereka omongkan? Ji Ppon-ppon (muka tebal)? Lakukan sendiri? Mereka tak tahu apa-apa. Ah rasanya ingin muntah.”

Sung Joon tertawa mendengar omelan Hye Jin. Hye Jin heran “Kenapa? Padahal mereka menjelekkan Anda?”

“Ah, yah tidak jelek-jelek amat,” ucap Sung Joon santai. “Agak berlebihan, tapi senang rasanya ada orang yang menggantikanku.”

“Sekarang aku bukannya bercanda.”

“Aku memang salah. Mereka berhak bicara hal buruk mengenaiku.” Hye Jin ingin menyela tapi sudah dipotong Sung Joon.

“Perusahaan bukan tempat yang akan mendengar masalah pribadimu. Kalau aku berbuat salah karena alasan pribadi, apapun alasannya tetap semuanya salahku dan tanggung jawabku. Yang pasti terima kasih.”

Sung Joo memengang tempat  ID card yang tergelantung di leher Hye Jin “ Hadiahnya pantas kau terima.”
***

Joo Young menawari Hye Jin untuk menulis artikel dongeng untuk majalah The Most. Sung Joon pun mendengarnya dan langsung pergi. Hye Jin menolaknya, ia tak cukup pede. Joo Young bilang jika tulisannya di bawah standar tidak akan dimuat. Hye Jin hanya mau membantu pekerjaan Joo Young saja dan yang lain.


Shin Hyuk menghampiri Hye Jin sudah kembali duduk di mejanya. “Jackson, kenapa tak kau coba? Pada awalnya banyak kok yang tak langsung bagus.” Hye Jin tetap menolak. Shin Hyuk tak kehilangan akal. Dia mengangkat tangan Hye Jin. “Cha Soenbae! Jackson bilang mau!” Hye Jin menjawab “Tidak Cha Soenbae!”


Di depan supermarket Shin Hyuk bertemu dengan Ha Ri. Shin Hyuk bertanya, “Gimana keadaanmu?” Ha Ri menjawab “Sudah mendingan.” Ha Ri meminta tolong pada Shin Hyuk untuk menemani jalan-jalan. Ha Ri dan Shin Hyuk naik speda motor sambil berteriak-teriak.


Hye Jin melihat poster pemarena lukisan Renoir di halte. Kemudian, Sung Joon juga datang meluhat poster itu. Mereka berdua tidak menyadari keberadaan satu sama lain hingga saat Sung Joo mau beranjak pergi barulah ia tahu Hye Jin juga ada di sampingnya. 
“Anda minum kopi lagi malam-malam?” tanya Hye Jin.

“Masih ada yang harus kukerjakan, “ jawab Sung Joon.

Sung Joon bertanya mau pulang. Hye Jin mengiyakan. Sung Joon bertanya lagi apa Hye Jin menyukai Renoir? Hye Jin bilang ia tidak tahu banyak tentang Renoir tapi merasa nyaman setiap melihat lukisan ini. Sung Joon bilang Renoir adalah seniman favoritenya.





“Oh, kau lihat puzzle lukisan yang kau pecahkan saat di rumahku kan?”Hye Jin mengiyakan. Dan itu mengingatkan Hye Jin pada Sung Joon kecil yang mengatakan “Renoir akhirnya hanya melukis momen bahagia. Dia bilang karena banyak hal yang tak membahagiakan di dunia ini. Dia ingin mengabadikan momen bahagian melalui lukisan. Itu sebabnya kau merasa bahagia melihat saat kau melihat karyanya.      

Hye Jin pun tersenyum. Sung Joon merasa heran, “Kenapa?” Hye Jin bilang bukan apa-apa. Silahkan masuk. Aku menunggu bus di sini. Sung Joon berkata, “Baiklah, sampai jumpa besok.” Dia pun pergi.



Hye Jin duduk di halte. Tiba-tiba Sung Joon kembali dan duduk di sampingnya. Sung Joon berkata, samopai bus datang, dia akan menemani Hye Jin. Sung Joon beralasan karena udaranya bagus, dia tak mau langsung masuk. Dia ingin menghirup udara segar.”

 “Kau pernah dengar dewa kesempatan (Caerus)? Tanya Sung Joon.

“Caerus? Tidak, aku tidak tahu.”

Sung memperlihatkan gambar Caerus di HP-nya. “Lihat, dia cuman punya rambut kuncung di depan, iya kan?”

“Oh benar! Kepalanya ke belakang gundul.”

“Karena Caerus hanya punya kuncung, dari dekat mudah menariknya. Tapi kalau kau lepaskan akan sulit untuk menariknya lagi. Itulah alasan kenapa tidak mungkin mendapatkan kembali kesempatan yang sudah hilang.”

Hye Jin tahu yang dimaksud Sung Joon adalah kesempatan yang diberikan Joo Young untuk menulis artikel. Hye Jin menatap Sung Joon. Sung Joon mengelak.

“Oh, aku hanya asal bicara. Tiba-tiba terlintas di kepalaku. Oh, busmu sudah datang. Sampai jumpa besok.”

Hye Jin naik bus dan heran kenapa Sung Joon tahu ia kan naik bus ini? (Ya, ialah kan Sung Joon pernah naik satu bus dengan Hye Jin bahkan duduk di sampingnya. Itu lo saat Hye Jin ngantuk-ngantuk dan bersandar di bahu Sung Joo).



Selesai naik sepeda motor denga riang, Ha Ri berkata “Aku harus pulang ke tempat yang semestinya. Berkatmu, aku bisa melepaskan beban di dadaku. Terima kasih.” Shin Hyuk meminta pada Ha Ri untuk tidak cerita pada Hye Jin tentangnya yang tinggal di hotel. Ha Ri menjawab sebagai seorang hotelier tugasnya melindungi informasi pribadi para tamu.”

Sesampai di rumah, Ha Ri menulis surat buat Sung Joon, mengatakan semua kebenarannya. Hye Jin memikirkan ucapan Sung Joon tentang dewa kesempatan. Hye Jin membuka piagam-piagam lomba menulis yang diraihnya. Tampaknya ia mau menerima tawaran Joo Young.

Benar saja, besoknya Hye Jin mengatakan pada Joo Young bahwa ia ingin mencoba menulis artikel. Sung Joon mendengarnya dan tersenyum. Joo Young memberikan seamplop yang berisi bahan-bahan untuk mengembangkan tulisan Hye Jin. Joo Young bilang dia sengaja mengumpulkannya karena merasa Hye Jin akan menerima tawarannya. Joo Young memperingatkan jika tulisannya kurang bagus, maka ia akan membuangnya ke tong sampah.





Hye Jin kembali ke mejanya dan melihat Sung Joon sambil menarik rambutnya. Sung Joon melakukan yang sama tapi tidak betul-betulan menarik rambutnya sih mungkin takut berantakan.

Hye Jin membawa banyak buku dan Shin Hyuk mengambil separuhnya dari tangan Hye Jin. Shin Hyuk berkata bahwa keputusan Hye Jin adalah keputusan yang bagus. Kalau perlu bantuan bilang sama Dewa Shin Hyuk kapan saja. Meski terlihat ceroboh dan mandar-mandir sebnarnya aku professional. Begitu banyak majalah bersaing yang mau merekrutku sampai-sampai ada keributan.” Karena terlalu memuji dirinya, Shin Hyuk terjatuh.



Hye Jin bilang ini benar-benar keributan sambil membantu Shin Hyuk mengambil buku yang jatuh “Aku sengaja, karena kalau terlihat sempurna mungkin membuatku seperti pria brengsek.”
“Tapi anehnya, banyak orang yang kenyataannya adalah orang yang brengsek dan tidak sempurna.”

“Jackson, kau benar-benar telah berubah! Kau jadi fasih betul, kurasa kau orang yang berbeda.”

“Enggak usah nyolot ya, cepat pergi sana.” Shin Hyuk memberikan semua bukunya pada Hye Jin.
***

Hye Jin sibuk sampai tak mempedulikan Shin Hyuk yang menganggunya. Shin Hyuk berkata sendiri kalau sekarang Jackson tidak asyik lagi tapi Jackson-ku keren juga ternyata. Dan Hye Jin pun bekerja keras sepanjang hari sampai larut malam. Ia melihat ada minuman kaleng di atas mejanya. Lalu ia langsung minum tanpa mempedulikan itu punya siapa. Dari luar Sung Joon melihatnya dan tersenyum. Hmmmm, pasti minuman itu Sung Joon yang ngasih.

Besoknya, Hye Jin berkata pada Joo Young kalau ia mau mewawancarai penulis dongeng terkenal.



Sung Joon ketemu Hye Jin di parkiran mobil dan bertanya apa Hye Jin membeli mobil baru? Hye Jin  menjawab, ia mau dinas ke luar dan Direktur Cha bilang akan cepat sampai kalau aku membawa mobil, jadi dia meminjamiku. Sung Joon bertanya “Mau pergi jauh?” Hye Jin mengiyakan, Paju Yadong-dong. Sung Joon memberi semangan pada Hye Jin karena ini adalah intervie pertamanya.

Ha Ri menelepon Sung Joon untuk mengajak ketemuan nanti malam. Sepertinya Ha Ri mau memberikan surat yang berisi penjelasan bahwa Ha Ri bukanlah Hye Jin.

Selama perjalanan, Hye Jin terus berlatih diri. Sementara di kantior Ah Reum sibuk mencari kunci mobilnya yang tidak ada. Joo Young heran melihat kunci mobilnya masih ada. Han sul menebak berarti Hye Jin membawa mobi Ah Reum. Shin Hyuk menelepon Hye Jin yang sedang asyik latihan sambil memutar musik yang kencang. Tentunya Hye Jin tak mendengar dering HP nya.



Semuanya mencemaskan Hye Jin. Shin Hyuk langsung kabur menyusul Hye Jin. Di restoran, Sung Joon menelepon Joo Young dan tak sengaja mendengar kalau Hye Jin tidak mengangkat HP nya. Sung Joon bertanya kenapa Hye Jin? Joo Young menjawab kalau Hye Jin salah membawa mobil. Dia membawa mobil Ah Reum yang rusak. Sung Joon terdiam melihat berita ada kecelakaan di paju Yadong-dong.

Sung Joon langsung pergi berlari menyusul Hye Jin dan tidak mendengar teriakkan Hye Jin yang memanggilnya.  

Shin Hyuk dan Sung Joon bersama-sama menyusul Hye Jin dengan perasaan yang cemas, bahkan hujan deras pun tak dipedulikan, terutama Sung Joon yang trauma mengendarai mobil saat hujan tetap melaju kencang.

Selama dalam perjalanan, Sung Joon mengingat semua hal yang dilewatinya bersama Hye Jin, saat perjalanan dinas hingga pertanyaan Shin Hyuk “Apa Anda benar-benar tak punya perasaan lain pada Kim Hye Jin?”



Sesampainya di lokasi kecelakaan, Sung Joon sibuk bertanya pada petugas tentang kondisi pengemudinya. Sampai-sampai berteriak-teriak dan menarik baju petugas. 







Hye Jin memanggil Sung Joon dari belakang. Sung Joon berbalik dan langsung berjalan memeluk Kim Hye Jin. Dia sangat takut kehilangan Hye Jin. Dan di sebrang jalan Shin Hyuk melihat kejadiaan itu.

Bersambung ke episode 10....
Komentar:
Aku yakin kali ini Sung Joon tidak akan ragu lagi dengan perasaannya kepada Hye Jin, meski ia belum tahu siapa sebenarnya Hye Jin. Itulah kenapa hati tak pandai berbohong, tak pernah salah. Hati bagaikan air yang selalu tahu ke mana seharusnya ia bermuara. Meski beribu kali Sung Joon membendungnya, air itu tetap mengalir melalui celah-celah kecil. Dan itu membutuhkan waktu yang lama buat Sung Joo untuk menyadari perasaannya yang sesungguhnya.
  
    

Sinopsis She Was Pretty Episode 9 Part 1

Hye Jin berada di salon untuk meluruskan rambutnya. Ahjumma yang akan melayani Hye Jin takjub melihat rambut Hye Jin, bagaimana kau bisa hidup dengan penampilan seperti ini?
 Hye Jin meminta untuk meluruskan rambutnya. Ahjumma berkata meski itu terlihat sulit tapi selama dia ada, dia bisa mengurusnya. Hye Jin  bertanya berapa biayanya? Ahjumma menjawab untuk perawatan dasar meluruskan rambut 300 ribu Won dan berhubung harus memakai nutrisi, biayanya 400 ribu Won.

Hye Jin terkejut dan hendak pergi. Tapi ia melihat penampilannya di kaca dna duduk kembali. 

“Iya, tolong lakukan. Aku ingin awal yang baru.”
 
Hye Jin pergi ke mall dan melihat sepasang pakaian yang digunakan manekin. Hye Jin menyukainya dan membeli pakaian itu, lalu memakainya.



Kemudian Hye Jin melihat event make over. Di saat host meminta para pengunjung yang ingin di-make over mengacungkan tangan, Hye Jin justru langsung duduk di depan dan memaksa untuk di make over.

Hye Jin melangkah masuk ke dalam kantor. Kepala manajer yang juga baru masuk terpesona melihat Hye Jin melintas. Dia merasa tak asing dengan aroma Hye Jin.



Hye Jin masuk ke ruangan bertepatan dengan bunyi dering telepon dan Joo Young yang meminta seseorang menjawabnya. Hye Jin mengangkat telepon itu. “Ya, dengan Tim Editing The Most, saya Kim Hye Jin.” Semua orang menoleh terkejut.

“Jackson?” Sjin Hyuk memastikan.

“Kau Hye Jin?” Ah Reum ikut memastikan. “Oh, melihart tas itu, itu memang seperti dia.”

“Ya, aku kembali! Mohon maaf telah membuat semua khawatir.” Hye Jin membungkuk pada semua orang.



Saking senangnya, Joon Woo langsung berlari memeluk Hye Jin. Shin Hyuk protes. Han Sul pun langsung menarik Joon Woo. Semuanya merasa senang dan memuji penampilan baru Hye Jin. Sung Joon melihatnya dari dalam ruangan dan tersenyum.

Joo Young menegur mereka, apa mau seharian menyambut kedatangan Hye Jin? Joo Young menyuruh semuanya kembali kerja. Joo Young juga senang dengan kedatangan Hye Jin dan tersenyum padanya.



Shin Hyuk menghampiri Hye Jin yang sudah duduk kembali di mejanya.

“Kau apain rambutmu? Tanya Shin Hyuk heran. “Oh, sebentar kau pakai meke up? Bintik merahmu itu tak kelihatan. Pipi yang macam dikasih taburan wijen itu ciri khasnya Jackson. 

”Ah, enggak cocok, enggak cocok. Jackson yang dulu lebih cantik.” Protes Shin Hyuk.

“Kenapa? semua orang bilang aku makin cantik,” ucap Hye Jin sambil mendorong kursi Shin Hyuk, menyuruhnya kembali kerja.

Han Sul mendekat dan memuji penampilan Hye Jin. Han Sul juga memanggil Hye Jin ‘unni’. Hye Jin terkejut karena tak seperti biasanya “Kenapa Unni?” Han Sul berkilah, apakah ia harus memanggil Hye Jin Oppa?

Lalu Han Sul pergi. Dia merasa bersalah pada Hye Jin, karena dia pikir Hye Jin dipecat karena dirinya. Saat itu kan Han Sul menyuruh Hye Jin pergi ke parkiran mobil dan meninggalkan gaunnya.
 
Kemudian, Hye Jin melihat bawangn bombaynya yang sudah makin panjang rambutnya. Hye Jin menebak bahwa ada seseorang mengganti airnya saat dia tidak ada. Hye Jin mengangkat gelas bawang dan melihat gambar bawang yang menangis yang dikirimkan Sung Joon.



Hye Jin  teringat pada Sung Joon dan menoleh ke arah ruangan Sung Joon, yang juga melihatnya. Dia membungkuk pada Sung Joon sambil tersenyum, dan  Sung Joon balik tersenyum. Hye Jin lalu pergi karena mendapat pekerjaan dari Joo Young.





Hye Jin menyapa Ketua Kim Rara yang selanjutnya akan kutulis Rara saja. Rara melihat Hye Jin dengan tatapan asing. Siapa Hye Jin? Hye Jin mengingatkan tentang dirinya. Rara pun sadar. Rara menyuruhnya kembali beraktivitas. Rara memanggil lagi Hye Jin dan mengatakan ”Kau sangat Most. Bravo…bravo…”

Shin Hyuk datang dan mengajak Hye Jin makan malam tapi malah maksa ngajak makan es sekarang. ternyata, Shin Hyuk mau mengobrol dengan Hye Jin di luar.

“Ah, Wapemred bertemu denganmu? Jadi kau datang karena Wapemred tak mau melepasmu?” tanya Shin Hyuk.

“Bukan. Aku kembali karena aku punya tujuan,” jawab Hye Jin.

“Tujuan Jackson adalah karyawan tetap.”

“Selain itu. Tujuan yang ada di depan mataku. Aku mau membeli mesin cetak ayahku. Aku bertekad untuk diri sendiri dan ayahku. Aku akan kerja keras tanpa megeluh.”

Shin Hyuk menimpali, “Kalau begitu kau butuh seseorang di sampingmu, seperti aku.”
***

Sung Joon menelepon Ha Ri. Sung Joon menghela napas karena akhirnya Ha Ri mau mengangkat teleponnya. Sung Joon sampai berniat mau ke hotel jika Ha Ri tidak juga mengangkat teleponnya. Sung Joon meminta Ha Ri meluangkan waktu, kalau Ha Ri sibuk biar dia yang akan ke hotel.

Ha Ri melarangnya. Dia beralasan sangat bosan berada di hotel. Jadi ketemuan di luar saja. Ha Ri mematikan HP nya dan memegang perutnya yang sakit lagi.



Rapat merayakan event ultah The Most ke-20. Joo Young mengusulkan untuk menyiapkan dana dan membuatnya lebih dramatis karena artis luar dan dalam negeri akan hadir.

“Benar, setidaknya pesta di kapal. Dibuat meriah dan seglamor mungkin.” Tambah Ah Reum.

“Dan mendatangkan penyanyi popular sekarang seperti Super Junior.” Usul Poong Ho. Hah.. bukankah super junior suda ada di situ?

“Kenapa tidak meminjam villa di pulau Jeju?” tambah Shin Hyuk.

Semua tampak senang dan setuju tapi tidak dengan Sung Joon dan Hye Jin, hingga Joo Young bertanya, “Ada masalah apa Wapemred?”

Saat melihat Hye Jin, Joo Young bertanya heran. “Kenapa ekspresimu begitu juga, Hye Jin?”

“Aku tak yakin… tapi hanya karena event ultah ke-20, melakukan sesuatu yang megah sepertinya berlebihan, sepertinya tidak sesuai dengan konsep kita.” ujar Hye Jin.

Senada dengan Hye Jin, Sung Joon bilang ia juga berpikir begitu. Sung Joon menjelaskan bahwa “Konsep kita adalah tentang bagaimana berbedanya dunia jika kau mengubah sudut pandangmu. Jadi fokus pada sesuatu yang megah sepertinya tidak cocok. Bukankah kita butuh sesuatu yang berbeda?”

“Seperti apa misalnya?” tanya Joo Young.

“Sesuatu yang berlawanan dari kemegahan,” jawab Hye Jin.

“Ah! Bagaiman kalau sisi lain dari kemegahan? Misalnya, demi menampilkan model yang cantik di atas catwalk untuk acara fashion show, ada seniman dan crew event. Atau ahli pijit ekslusif untuk olahragawan terkenal di dunia. Menyoroti orang-orang macam itu.” Timpal Sung Joon.

“Kalau begitu kita juga termasuk. Demi menerbitkan majalah yang glamour, banyak orang yang tidak tidur bahkan sampai tak punya waktu untuk mandi,” ucap Joo Young.

“Kita bekerja seperti orang gila.” Keluh Han Sul.

“Bintang bersinar paling terang di kegelapan. Jadi intinya bukan menyoroti bintangnya tapi kegelapannya,” simpul Poong Ho

“Orang yang bersembunyi di bayang-bayang, agar orang lain terlihat bersinar, itulah keindahan yang sesungguhnya. Jika diberi judul “The Beauty of Shadows.” Tambah Shin Hyuk. Semua setuju.

“Tapi ide siapa ini awalnya? Bukankah Jackson? Jackson? Kau hebat sekali. Haruskah kita tepuk tangan?” semua orang bertepuk tangan untuk Hye Jin.

Hye Jin masuk ke ruangan Sung Joon membawa notulen rapat. Hye Jin mau pergi tapi tertahan oleh panggilan Sung Joon.

“Kim Hye Jin- sshi. Aku harus gimana? Haruskah aku membeli tiket lotre?” Hye Jin kebingungan.

Sung Joon mengambil buku Hye Jin “Di sini tertulis kalau aku kembalikan buku ini, aku akan dapat banyak keberuntungan.” Hye Jin tersenyum.

“Aku tahu ini tak sopan. Tapi aku baca dari awal sampai akhir. Aku dapat beberapa ide selagi membacanya.” Hye Jin membuka bukunya dan ada memo yang ditempelkan Sung Joon.

“Sama halnya dengan ide di perjalanan dinas, perayaan ultah dan bukumu. Entah karena aku melihatmu dengan mata amatiran atau karena Kim Hye Jin punya cara pandang yang berbeda. Cara pandangmu terasa nyaman? Pokoknya ini meyegarkan. Aku harap kau bisa menunjukkan lebih banyak lagi.”

“Ya, aku akan bekerja lebih keras lagi,” ucap Hye Jin semangat.



Sung Joon memanggil Hye Jin sekali lagi untuk memberi ID card-nya yang telah dibalut oleh bet.  

“Ini hadiah selamat datang dariku sebagai rekan kerjamu,” ucap Sung Joon tulus.

Hye Jin langsung memakainya dan meminta penilaian Sung Joon. Sung Joon mengacukan jempol tanda bagus. Mereka berdua bersama-sama tersenyum.

Untuk ketiga kalinya Sung Joon memanggil Hye Jin lagi. “Sepertinya aku lupa mengatakan hal yang paling penting. Senang kau bisa kembali. Welcome back.”
***

Ha Ri melihat Sung Joon dari bawah café tempat mereka janjian. Ha Ri menelepon Sung Joon mengabari kalau ia tiba-tiba harus pergi ke luar negeri. Sung Joon bilang telepon aku kalau ada waktu senggang.

Shin Hyuk sedang menunggu mie ramennya di luar supermarket. Dia melihat Ha Ri pingsan di dalam supermarket dan membawanya ke rumah sakit. Dokter berkata Ha Ri mengalami kejang perut karena stress. Ada tanda-tanda dehidrasi dan kekurangan nutrisi. Pasti ia jarang makan dan tidur belakangan ini. Dia pasti stress berat. Shin Hyuk teringat kalau ia pernah melihat Ha Ri kesakitan memegang perutnya.



Ha Ri sadar dari pingsannya. Shin Hyuk bilang “Kau tak bisa mengatasinya dan akhirnya sakit. Kelihatannya kau bukan tipe orang yang melakukan itu dan menghadapi konsekuensinya. Semakin lama kau menunggu, kau akan semakin terluka.”
“Kupikir akan selesai dalam sehari. Hanya satu hari lagi. Aku jadi serakah. Beberapa kali, tidak. Ratusan kali aku mencoba berhenti.”

“Kau itu teman dekatnya Kim Hye Jin. Kau tahu dengan jelas bahwa mereka berdua adalah cinta pertama mereka.”

“Sama halnya denganku. Bagiku juga dia cinta pertamaku. Menyukai seseorang seperti ini, pertama kalinya buatku,” ucap Ha Ri tak mau sambil menangis.

Di rumah dengan wajah pucat Ha Ri bangun dan keluar dari kamarnya. Ia melihat Hye Jin sedang memasak. Dia memanggilnya. Hye Jin bilang ia sangat ketakutan saat melihat Ha Ri mengerang dalam tidur. Masakan mendidih, Hye Jin bergegas kembali memasak. Hye Jin berkata tadi ia melihat obat sakit perut Ha Ri.  Apa Ha Ri sedang stress berat? Soalnya setiap stress berat Ha Ri akan sakit perut. 



Ha Ri teringat dulu saat ia sakit perut, ibu tirinya hanya memberinya uang untuk berobat dan pergi tanpa mepeduli padanya. Mungkin itulah yang membuat hubungan mereka sampai sekarang buruk. Namun, Hye Jin lah yang datang membawakan bubur untuknya. Saat itu Ha Ri berjanji untuk hidup bersama Hye Jin dan memperlakukannya dengan baik.



Ha Ri memeluk Hye Jin dari belakang dan berkata Hye Jin adalah obatnya, jadi ia tidak sakit lagi. Hye Jin membalas kalau dirinya memang obat mujarab.

“Hye Jin-na.. apa aku sudah bilang padamu? Aku sangat menyayangimu,” ucap Ha Ri sambil berurai air mata. Ha Ri merasa sangat bersalah pada Hye Jin



Hye Jin berbalik melihat Ha Ri dan menebak, “Apa kau bertengkar dengan pacarmu? Atau ada masalah di hotel?”

Ha Ri kembali memeluk Hye Jin dan berkata tidak terjadi apa pun. Aku baik-baik saja, sungguh.



Hye Jin baru datang dan menyapa semuanya yang ada di kantor. Poong Ho berkomentar.

“Hye Jin berpakaian normal lagi hari ini. Sepertinya seleramu telah meningkat.”

“Ini hanya 30 ribu Won saja. Aku sedikit lama di tim ini, seleraku jadi bagus,” ujar Hye Jin.

“Benar, fashion itu bukan tentang uang. Tapi perhatian yang mendalam.” Sambung Joo Young.

“Tapi kenapa kau hidup seperti itu (berantakan) padahal kau bisa seperti sekarang?” tanya Han Sul.

“Aku harus membayar pinjaman uang kuliah. Tolong terima tekadku untuk tampil seperti Most.”

Joong Young, Poong Ho, dan Joon Woo bertepuk semangat memeberi dukungan dan semangat pada Hye Jin.



Tim editing rapat lagi. Joo Young bertanya bagiamana dengan pidato pembukanya? Poong Ho bilang seharusnya seorang Pemred (pemimpinan redaksi) yang melakukannya. Tapi di ti tim kita, apa kita punya Pemred seperti itu? Dia akan bilang ‘Buongiorno!’ di awal pidato.

Han Sul menambahkan akan banyak klien dari luar negeri yang datang. Bukankah kita harus pakai bahasa inggris. Sung Joon bilang biar dia yang akan menyiapkannya.

Ah Reum datang tepat saat rapat sudah selesai. Dia berkata kalau mobilnya tiba-tiba mogok. Shin Hyuk bertanya mogok di tengah jalan? Kau bisa kena tabrakkan kalau begitu. Poong Ho menambahkan apa mobilnya kau taruh di bengkel?

“Tidak. mobilnya bisa hidup kembali. Jadi aku bisa langsung kemari,” jawab Ah Reum.

“Dari A, B, C, D, bukankah A yang lebih penting? Ini adalah hal yang paling mendasar. Entah dengan lain, tapi tolong tepat waktu,” ujar Sung Joon tegas.

Ah Reum mengomel ini kan bukan salahnya. Poong Ho berkata paada Ah Reum, jangan bawa mobilmu ke bengkel, panggil saja jasa derek. Kau bisa kecelakaan.



Shin Hyuk bertanya pada Hye Jin, “Sekarang ID mu kau bungkus? Jackson yang lama ke mana? Kenapa kau terus berubah?” protes Shin Hyuk.

“Aku dapat ini dari Wapemred,” kata Hye Jin.

“Apa? Kenapa dia ngasih itu?”

“Hadiah selamat datang. Kupikir kami sudah bisa menjadi rekan kerja sungguhan, jadi aku menerimanya.”

Shin Hyuk tertawa tak jelas, “Hadiah selamat datang? Dasar! Aku jadi merinding! Dasar! Tak masuk akal! Dasar!” Shin Hyuk geleng-geleng kepala persis seperti ekpresi Hye Jin saat Shin Hyuk bertanya kenapa Hye Jin bertingkah aneh setiap di depan Sung Joon.



Di bus orang-orang pada heboh melihat seorang pria naik sepeda motor mengikuti bus. Hye Jin melihatnya. Ternyata Shin Hyuk heboh seperti orang gila. Hye jIn bilang itu berbahaya.



Hye Jin turun di halte tempat Shin Hyuk menunggunya. Shin Hyuk mengambil sebuah tas dan memberinya pada Hye Jin. “Hadiah selamat datang”. Hye Jin bilang bukankah tadi Shin Hyuk jadi merinding. Kenapa aku harus menerima ini?

“Ini hadiah selamat datang. Aku menyambutmu dengan hangat. Jadi terima saja. Aku membelinya kerena diskon 90%”

Bahkan Shin Hyuk membandingkan besar hadiahnya dengan hadiah Sung Joon. Hye Jin mengembalikan tas itu pada Shin Hyuk. Shin Hyuk berkata kalau begitu tasnya dibuang saja. Hye Jin mengiyakan saja.

Shin Hyuk membalasnya aku berikan saja sama anjing. Pas ada seekor anjing bersama pemiliknya lewat. Shin Hyuk langsung memberikan tas itu dan mengatakan kalau tas ini sangat cocok pada bulu anjing itu. Sang pemilik pun mengatakan Sung Joon gila. Hye Jin pun terpaksa memakai tas itu. Shin Hyuk itu  bilang harus dipakai setiap hari. 





Sung Joon bersiap-siap dan latihan pidato untuk acara ultah The Most. Semua anggota The Most tampak sibuk. Para bintang pun datang seperti Uee, Seo In Guk, Lee Jun Ki dll. Shin Hyuk bercerita pada teman-temannya kalau dia berfoto bersama para bintang. 
 
Joo Young mengeluh Sung Joon belum datang padahal acara sebentar lagi dimulai. Hye Jin menyambut MC acara yang baru datang. MC itu bilang kalau di luar hujan jadi ia terkena macet.





Han Sul melapor kalau Sung Joon tidak mengangkat teponnya. Joo Young menyuruh Joon Woon untuk menunda acara. Joon Woo mengatakan pada salag satu kru untuk mengundurkan acaranya. Kru itu pun memberi tahu MC untuk menunda acara. Tapi dasar MC tak nyambung, dia justru memulai acara.
Video yang berisi tentang kerja keras tim The Most untuk menerbitkan sebuah majalah yang glamour pun diputar. Semuanya terharus melihatnya. Tapi jadi panic karena sebentar lagi waktunya pidato pembukaan.



Sementar Hye Jin ada di lobi mengkhawatirkan Sung Joon karena Sung Joon bilang dia sangat trauma mengendarai mobil saat hujan.




Bersambung ke Part 2...

Komentar:
Yang namanya jodoh itu, selalu memiliki pemikiran yang sama. Lihat, bagaimana telepati Hye Jin dan Sung Joon yang berfungsi secara selaras.